Bangkit dari Disleksia, Kenneth Trevi Rilis Lagu “Dyslexia Man” Sekaligus Bintangi Serial YouTube Penuh Haru
By Admin

nusakini.com, Bandung – Penyanyi muda Kenneth Trevi mengawali tahun 2026 dengan langkah berani. Ia merilis lagu terbaru berjudul “Dyslexia Man”, sekaligus tampil sebagai pemeran utama dalam serial YouTube “Aku Kamu dan Suatu Hari Kita”. Dua karya ini lahir dari kisah nyata perjuangannya sebagai penyandang disleksia.
Kepada awak media, Rabu (28/1/2026), Kenneth mengungkapkan bahwa lagu dan serial tersebut merekam perjalanan hidupnya sejak kecil—mulai dari tantangan akademik, tekanan sosial, hingga pergulatan emosi yang dialami anak dengan cara belajar berbeda. Kedua proyek ini diproduksi oleh Senada Digital Records bersama TemanHebat Records.
Lewat Dyslexia Man, Kenneth menyuarakan realitas anak disleksia yang kerap disalahpahami. Lagu ini menggambarkan proses belajar yang tidak instan, kebutuhan pengulangan, serta pencarian metode belajar yang tepat. Pesan utamanya jelas: setiap anak punya potensi, meski jalannya tak selalu sama.
Sementara itu, serial Aku Kamu dan Suatu Hari Kita disajikan secara intim dan jujur. Kenneth memerankan dirinya sendiri, didampingi sang ibu, Moms Yuly, yang tampil sebagai simbol orang tua yang setia mendampingi tanpa syarat. Hubungan ibu dan anak menjadi benang merah cerita—penuh kasih, pengorbanan, dan kepercayaan.

Bagi Kenneth, peran sang ibu adalah fondasi utama pembentukan mental dan karakternya. Sosok yang tak pernah lelah menggenggam tangan, meski dunia kerap memandangnya berbeda. Dari sanalah lahir keberanian untuk bangkit dan percaya pada diri sendiri.
Menariknya, proses akting justru menjadi pengalaman emosional tersendiri. Bukan membuka luka lama, melainkan merayakan perjalanan panjang yang membentuknya hari ini. Momen paling menyentuh terjadi saat melihat sang ibu memerankan kesedihan, menyadarkan bahwa disleksia juga menjadi perjuangan batin orang tua.
Melalui musik dan serial visual ini, Kenneth ingin meluruskan stigma soal disleksia. Kondisi ini bukan sekadar sulit membaca atau menulis, melainkan kebutuhan akan pendekatan belajar yang berbeda dan dukungan lingkungan yang tepat.
Moms Yuly mengaku mengenali kondisi sang anak sejak usia balita melalui berbagai terapi dan pemeriksaan tumbuh kembang. Diagnosis sebagai disleksia berat sekaligus gifted sempat mengguncang emosinya. Namun seiring waktu, ia menemukan kekuatan Kenneth di dunia musik.

Tekanan sosial dan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya ramah menjadi tantangan tersendiri. Moms Yuly memilih menurunkan ekspektasi, menyaring suara lingkungan, serta membangun jejaring dengan komunitas serupa. Baginya, anak dengan kebutuhan khusus bukan kekurangan, melainkan pribadi yang butuh ruang dan kepercayaan.
Produser Kenneth Trevi, Rulli Aryanto, menyebut proyek ini sebagai perpaduan efektif antara hiburan dan pesan sosial. Musik dan visual storytelling dinilai mampu membangun empati publik sekaligus memperluas wawasan tentang disleksia, tanpa menggurui.
“Ini bukan hanya karya, tapi investasi nilai,” ujarnya. Harapannya, publik semakin sadar bahwa setiap anak Indonesia berhak bermimpi, berkarya, dan menemukan jalannya sendiri—baik lewat musik maupun film. (*)